Laptop Itu Hanya Alat, Bukan Segalanya
Saya sudah 21 tahun menjadi praktisi IT. Selama itu, saya melihat langsung bagaimana teknologi berkembang, dari komputer tabung, jaringan kabel kusut, sampai era cloud dan AI hari ini. Tapi ada satu hal yang tetap sama: nilai terbesar bukan ada pada alat, melainkan pada manusia yang menggunakannya.
Sering saya merasa sedih ketika melihat anak-anak kecil memegang laptop di sekolah, sementara saya membayangkan bagaimana orang tuanya harus bekerja keras, bahkan berhutang atau mengumpulkan recehan, demi memenuhi tuntutan sekolah: “anak wajib punya laptop.”
Saya pernah melihat seorang sopir odong-odong menabung receh logam demi bisa membelikan anaknya komputer. Saya sering juga mendengar orang tua bertanya harga laptop, lalu terdiam karena tidak sanggup membelinya. Itu bukan cerita sekali dua kali, tapi sering terjadi. Dan jujur, itu menyayat hati.
Bagi saya, IT hanyalah alat biasa. Alat yang bisa dipakai siapa saja, kapan saja, asal tahu caranya. Yang benar-benar mahal adalah otak, pemahaman, daya pikir, dan kreativitas manusia. Itulah yang membedakan satu orang dengan orang lain.
Bahkan kepada anak saya sendiri, ketika masuk SMK, saya sarankan jangan ambil jurusan TKJ (IT), tapi ambil DKV. Kenapa? Karena saya ingin mendobrak anggapan bahwa IT adalah segalanya. Justru dunia kreatif, seni, dan desain membuka ruang luas untuk ide-ide baru yang tidak lekang oleh zaman.
Jadi, kalau ada yang bertanya pada saya: “Laptop itu penting nggak?” Jawaban saya: penting, tapi bukan segalanya. Jangan sampai kita lupa, bahwa yang membuat laptop itu bernilai adalah otak dan pemahaman manusianya.
